Menyambung Benang Merah Slamet Abdul Sjukur : Recital Piano oleh Cicilia Yudha

Recital pianis Cicilia Yudha menjadi penutup rangkaian acara Kaleidoskop Pertemuan Musik Surabaya. Tahun 2015 adalah tahun yang cukup emosional bagi PMS. Di awal tahun, PMS kehilangan seorang guru dan inspirator besar, Slamet Abdul Sjukur yang membangun PMS sejak berpuluh tahun lalu. Recital yang menjadi penutup program selama setahun ini pun tanpa sengaja mengambil lokasi di mana PMS pertama kali diselenggarakan di tahun 1957.

DSC_0966

Foto: Adrea Kristatiani

Seperti tanpa lelah, rangkaian acara dalam dua hari berturut-turut, 10 dan 11 Desember 2015 lalu tidak membuat Cicilia Yudha kehilangan energi. Sejak siang, ia terlihat tekun berlatih untuk recital malam hari. Membawa semangat “Menyambung Benang Merah Slamet Abdul Sjukur”, komposisi-komposisi yang dibawakan di bagian kedua setelah intermission adalah ciptaan dari Dutilleux, yang merupakan guru Slamet Abdul Sjukur, serta komposisi dari SAS sendiri sebagai guru dari Cicilia Yudha. Sedangkan komposisi-komposisi untuk pembukaan dipilih yang memiliki keterikatan kuat secara personal di diri Cicilia. Schubert dan Mozart dipilih untuk dimainkan terlebih dahulu.

Recital dibuka dengan tampilan dari Gema Swaratyagita (piano) dan Samsul Pilot (Gong) yang membawakan “Tuwakatsa”, sebuah karya wasiat dari Slamet Abdul Sjukur. Gema sebagai murid SAS mendapatkan keistimewaan sebagai yang pertama kali membawakan karya tersebut. Publik Surabaya mendapat giliran untuk menikmatinya. Seakan ingin menampilkan nuansa etnik, Gong dan piano dimainkan dengan cara yang berbeda. Tak hanya menekan tuts, Gema juga dituntut untuk bermain dengan senar-senar di bagian dalam piano. Bahkan ia juga membaca beberapa bait lirik di sela permainan. Sementara Samsul Pilot mengeksplorasi gong dengan berbagai cara. Memukul, mengetuk, hingga menghasilkan bunyi berbeda dengan kawat yang digesekkan pada Gong.

DSC_0962

Foto: Adrea Kristatiani

Cicilia Yudha tampil menyejukkan di pembukaan pertama dengan Impromptu Op. 90 No.3 in G-flat Major. Komposisi ini terdengar teduh, menenangkan dan tidak emosional di tangannya. Memiliki keterikatan kuat dengan komposisi ini, Cicilia berkata bahwa ini adalah komposisi pertama yang ia bawakan di Amerika. Sonata in B-Flat Major K.333 milik Mozart dibawakan berikutnya. Keunggulan Cicilia terhadap kerapian menggarap melodi terlihat jelas di sini. Not-not yang dimainkan terdengar bersih dan jelas.

DSC_0979

Foto: Adrea Kristatiani

Jeda beberapa saat, recital berganti menggaungkan bunyi-bunyi disonan dari dua karya Dutilleux. Au gre des Ondes dan Blackbird. Sepanjang berbagai variasi yang ditampilkan dalam komposisi ini mengeksplorasi sentuhan-sentuhan lembut ala jazz dari Dutilleux. Penggarapan yang rapi dan sabar oleh Cicilia membuat ragam suasana dari masing-masing movement terasa pada audiens. Sementara

Blackbird diciptakan karena terinspirasi oleh Messien yang ke
ntal dengan komposisi-komposisi yang mengimitasi suara burung. Komposisi pendek ini menuntut kekayaan warna dari produksi bunyi yang dihasilkan. Dinamika dan kejutan yang ditampilkan merupakan poin menarik bagi audiens.

Dibuka dengan komposisi SAS, acara ditutup pula dengan komposisi ciptaan beliau. Untuk pertama kalinya, Cicilia Yudha membawakan karya kontemporer Game-Land No.5. Seakan ingin mendobrak zona nyamannya sebagai pianis klasik, Cicilia tampil baik. Sungguh-sungguh mengeksplorasi suara, telapak tangan, instrumen kemanak (alat pukul dari logam), piano dan gong, ia mampu menghadirkan keunikan dari seorang SAS.

 

DSC_0997

Foto: Adrea Kristatiani

 

Menjadi penutup di rangkaian acara Kaledoskop Akhir Tahun PMS, recital ini menjadi perwujudan langgengnya semangat seorang Slamet Abdul Sjukur yang selalu ingin masyarakat mencintai musik. Semangat yang kiranya terus menular pada benak siapa saja yang ingin meneruskan semangat perjuangannya.

 

Sumber

Leave a comment

Your email address will not be published.


*